Senin, 01 April 2013

MENTAL IMAGERY

Apakah Mental Imagery Kata “mental imagery” dalam psikologi kognitif merupakan suatu representasi situasi lingkungan dalam kognisi atau pikiran seseorang. Sebagai suatu bentuk representasi mental, seseorang akan mencoba untuk membayangkan, menggambarkan suatu situasi seolah ia sedang melakukan suatu tindakan tindakan tertentu atau berada di dalam lingkungan tertentu. Mental imagery, ada juga yang mengatakan sebagai visualisasi dan mental rehearsal merupakan pengalaman yang dalam persepsi seseorang, dan terjadinya tanpa kehadiran rangsangan langsung (Annie Plessinger, 2007). Definisi Representasi Mental Representasi mental sangat erat hubungannya dengan pembentukan pengalaman di pikiran, yang umumnya terkait dengan proses penggambaran mental. Penggambaran mental (mental imagery) (yang dalam keseharian sering disebut dengan istilah “visualisasi”, “melihat dengan mata mental”, “mendengar (di) dalam kepala”, “membayangkan rasa” atau yang lainnya) merupakan pengalaman serupa-perseptual (quasi-perceptual), namun terjadi tanpa adanya stimulus eksternal. Pengalaman perseptual merupakan pengalaman yang terjadi di luar pikiran individu yang dapat dipahami (perceive) melalui panca indra. Penggambaran mental sering diyakini pula terjadi secara diniatkan, contohnya gambaran mental selalu merupakan gambar dari sesuatu, sehingga merupakan salah satu bentuk representasi secara mental. Pemahaman sebelumnya mengenai penggambaran mental secara visual, bentukan representasi yang paling sering diulas, diyakini disebabkan oleh kehadiran gambar yang menyerupai representasi (gambaran mental) di pikiran, jiwa atau otak, namun pemahaman tersebut tidak lagi diterima secara universal. Makna dan konotasi dari penggambaran mental Penggambaran mental merupakan aspek keseharian dari pengalaman individu (Galton 1880). Sedikit individu yang menyatakan bahwa dirinya jarang atau bahkan tidak pernah secara sadar mengalami penggambaran mental (Galton, 1880). Bagi mayoritas individu hal ini merupakan karakteristik umum terkait dengan pengalaman yang terjadi di pikiran. Bahasa pun menyajikan kosa kata terkait dengan pengalaman ini, seperti; ‘visualisasi’, ‘melihat melalui mata mental’, ‘mendapatkan gambar di pikiran’, ‘pengambaran’, ‘melihat gambaran mental’ dan lainnya. Sangat sedikit jumlah mekanisme yang membahas mengenai fenomena serupa penggambaran pada modus sensorik lainnya, dan terdapat sedikit keraguan apakah hal tersebut dapat terjadi. Pengalaman serupa-penggambaran melalui modus sensorik selain visual sering dinyatakan sebagai ‘pembayangan’ (imagining) seperti sensasi rasa, aroma atau rasa pengecapan. Secara alternatif, karakteristik serupa-perseptual (quasi-perceptual) terhadap pengalaman perseptual dapat dinyatakan menggunakan bahasa sensorik yang berpadanan, contohnya ‘melihat’, ‘mendengar’, ‘merasakan’ atau yang lainnya. Terlepas dari familiaritas dalam pengalaman, arti sesungguhnya dari ekspresi ‘penggambaran mental’ (mental imagery) relatif sulit untuk dinyatakan secara definitif dan perbedaan pemahaman terkait hal ini sering kali menambah kerancuan yang telah ada pada perdebatan panjang dan kompleks di kalangan filusuf, psikolog, dan ilmuwan bidang kognitif lainnya mengenai karakteristik dari penggambaran yang terjadi, fungsi psikologisnya (jika ada), bahkan pada keberadaannya penggambaran itu sendiri. Pada literatur filosofis dan ilmiah, ekspresi dari ‘penggambaran mental’ digunakan pada berbagai hal berikut (sering kali dinyatakan secara eksplisit): (1) Pengalaman sadar yang serupa-peseptual (2) Representasi menyerupai gambar yang bersifat hipotesis di pikiran dan/atau di otak yang memunculkan hal (1) (3) Representasi internal dari berbagai jenis (menyerupai gambar atau lainnya) yang secara langsung memunculkan hal (1) Telah banyak diskusi terkait dengan penggambaran mental visual yang gagal memberikan perbedaan definitif antara keyakinan bahwa individu memiliki pengalaman serupa-visual (quasi-visual) dan keyakinan bahwa pengalaman tersebut perlu dijelaskan dengan keberadaan representasi di pikiran atau di otak, yang mana pada beberapa aspek dapat menyerupai gambar. Teori gambar (pictorial theory) mengenai penggambaran secara mendalam terpatri dalam bahasa dan psikologi populer. Bahkan kota kata ‘image’ (bentukan dasar dari ‘imagine’, ‘imagining’) menyiratkan keberadaan gambar. Walaupun mayoritas dari individu dan para pakar kemungkinan tetap terus menerima sebagian dari teori gambar, banyak filusuf dan psikolog dari abad ke-20, dengan berbagai latar belakang teori, berargumen menentang hal tersebut. Bahkan pada beberapa kasus, mereka telah mengembangkan alternatif lain yang cukup mendetil, karakteristik tanpa gambar dan penyebab dari pengalaman penggambaran (imagery experience) (e.g., Sartre, 1940; Ryle, 1949; Pylyshyn, 1973, 1981, 2002a; Neisser, 1976; Slezak, 1995; Thomas, 1999b). Berbagai pihak lain juga perlu dicantumkan yang telah mengembangkan dan mempertahankan teori gambar secara memuaskan dalam menjawab berbagai kritik tersebut, misalnya Kosslyn, 1980, 1994; Tye, 1991. Namun terlepas dari berbagai pengembangan tersebut, banyak dari diskusi filosofi dan ilmiah mengenai penggambaran dan fungsi kognitif dapat atau tidak didasarkan pada asumsi yang sering kali tidak ternyatakan (dan tidak teruji), jika ada penggambaran mental, hal itu harus melibatkan gambar internal. Bentukan lain di mana ekspresi ‘penggambaran mental’ (bersama dengan berbagai sinonimnya dalam keseharian) dapat saja salah arah, bahwasannya hal tersebut cenderung mengacu hanya pada fenomena serupa-visual (quasi-visual). Terlepas dari kenyataan bahwa kebanyakan diskusi ilmiah terkait dengan penggambaran, yang terjadi di masa lampau dan masa kini, berfokus secara ekslusif hanya pada modus visual, namun pengalaman serupa-perseptual (quasi-perceptual) pada modus sensorik lainnya juga sama nyatanya dan sering kali seawam dan sama pentingnya ditinjau dari aspek psikologis. Para peneliti bidang kognitif kontemporer secara umum mengenali hal ini, dan studi yang menarik dari penggambaran audio (auditory imagery), penggambaran kinestetik (kinaesthetic (or motor) imagery), penggambaran aroma (olfactory imagery), penggambaran sentuhan (haptic (touch) imagery) dan lainnya, dapat dijumpai pada beberapa literatur ilmiah terkini. Namun berbagai studi tersebut masih lebih sedikit secara kuantitas dibandingkan studi yang terkait dengan penggambaran secara visual. Namun demikian ‘penggambaran’ telah menjadi terminologi yang diterima, diantara ilmuwan kognitif, untuk pengalaman serupa-perseptual pada berbagai modus pengindraan (atau kombinasi di antara berbagai modus pengindraan). Cara Latihan Mental Imagery Rainner Martens, seorang psikolog olahraga, menyatakan ada tiga tahapan yang penting dalam melakukan imagery. 1.Mengembangkan seluruh kesadaran sensorynya. Ketika seseorang melakukan imagery, mereka tidak hanya memvisualisasikan situasi yang dibayangkan, melainkan juga meningkatkan seluruh kesadaran sensorinya sehingga ia seolah berada dalam situasi yang senyatanya. 2.Mengembangkan vividness(gamblang/jelas/hidup). Bayangan yang dibuat seolah harus hidup dan jelas lokasi, tempat, dan juga apa yang dilakukannya. 3.Mengembangkan rencana untuk mengontrol perilaku. Meskipun imagery berguna bagi atlet, teknik ini juga dapat merusak performance atle apabila tidak dikendalikan. Pengendalian dimaksudkan untuk memilik maha imagery yang harus dipilih dan mana yang tidak perlu dipilih. Misal. Kalau atlet dalam ber-imagery banyak membanyangkan hal yang salah, atau kekalahan, maka justru al itu akan berakibat buruk bagi atlet. Dalam melakukan mental imagery, seorang atlet harus melihat dirinya dengan senang hati melakukan aktivitas dan merasakan apa yang terjadi secara penuh perasaan. Mereka harus mencoba ketika memasuki lingkungan atau melakukan aktivitas menajamkan penglihatannya, pendengarannya, perasaannya, penciumannya, dan melakukan tindakan seolah ia melakukan dalam situasi yang sebenarnya. Untuk bisa melakukan penajaman indera, seorang atlet perlu berada dalam kondisi relaks dan pikirannya bisa dikonsentrasikan pada latihan tersebut. Kedua hal tersebut sangat penting karena dengan rileks, seorang akan dengan mudah adaptasi dan memasuki suatu lingkungan yang baru, dan dengan konsentrasi seseorang akan mudah memfokuskan pikiran, dan perasaan pada situasi yang dibayangkannya. MANFAAT MENTAL IMAGERY Mental Imagery dapat digunakan dalam berbagai kesempatan: 1. Untuk mengembangkan kepercayaan diri atlet. Kepercayaan diri merupakan keyakinan akan kemampuan atlet untuk dapat sukses dalam mencapai tujuannya. Dengan latihan imagery, atlet akan mampu meningkatkan dan mengantisipasi apa yang akan terjadi. Kalau dia sukses dalam latihan mental imagery ini, ia akan semakin yakin kemampuannya, dan peningkatan ini dapat meningkatkan pla kepercayaan dirinya. 2. Untuk mengembangkan strategi pre-kompetisi dan kompetisi. Atlet diajari untuk memahami situasi baru sebelum mereka turun di gelanggang yang sebenarnya, sehingga apa yang akan terjadi dapat diantisipasi oleh atlet, dan dengan antisipasi ini, mereka mudah melakukan adaptasi terhadap berbagai kemungkinan hal yang terjadi. 3. Membantu atlet memfokuskan perhatian atau konsentrasinya pada suatu bentuk ketrampilan tertentu yang sedang dilatihnya. Hal ini bisa dilakukan pada masa latihan (training session). Kita tahu bahwa ketrampilan terbentuk melalui tiga tahapan yaitu tahap kognitif, tahap asosiasi, dan tahap otomatisasi. Ketrampilan tertentu dalam olahraga akan cepat dicapai atlet bila pada dua tahapan banyak melakukan mental imagery. 4. Membantu atlet memfokuskan diri pada pertandingan. Bila kita ingin focus pada pertandingan, mental imagery dapat dilakukan disaat dibutuhkan. Sewaktu-waktu kita bisa mengingat kembali atau membayangkan kembali ketrampilan yang bisa kita lakukan di saat kita mengalami kesulitan di lapangan. PUSTAKA Anonim. 2007. Brianmac Coach Mental Imagery.http://www.brianmac.co.uk/mental. htm. Cox, Richard H. 1985. Sport Psychology: Concepts and Applications. Dubuque:Wm C Brown Publishers. Anonim. 2007. Peak Performance: Sporting Excellence. Mental imagery for physical people: how recreating all-sensory experience can profoundly affect your performance. http://www.pponline.co.uk/ Kosslyn, S.M. (1980). Image and Mind. Cambridge, MA: Harvard University Press. Sartre, J.-P. (1940). The Psychology of Imagination. (Terjemahan dari bahasa perancis by B. Thomas, N.J.T. (1999b). Are Theories of Imagery Theories of Imagination? An Active Perception Approach to Conscious Mental Content. Cognitive Science (23) Paivio, A. (1986). Mental Representations: A Dual Coding Approach. New York: Oxford University Press. Plessinger, Annie. 2007. The Effects of Mental Imagery on Athletic Performance.http://www.vanderbilt.edu/AnS/psychology/health_psychology/mentalimagery.html\

Tidak ada komentar:

Posting Komentar